Studi terbaru menunjukkan anak yang menjalani tonsilektomi dengan atau tanpa adenoidektomi, akan menungkat resiko untuk mengalami berat badan beberapa tahun setelah operasi.
Dari National Institute for Public Health and Enviroment, Bilthoven, Belanda, dalam studi sebelumnya menghubungkan tonsilektomi dengan kenaikan berat badan, tetapi saat itu belum dapat dipastikan apakah kejadian tersebut merupakan faktor resiko.
Guna memastikan hal ini, para peneliti menganalisis data 3,963 anak yang mengikuti studi kohort kelahiran PIAMA (Prevent and Incidence of Asthma and Mite Allergy). Digunakan kuesioner parental tahunan untuk menilai berat badan, status tonsilektomi dan faktor lain. Selain itu, tinggi dan berat badan seluruh anak dinilai saat berusia 8 tahun.
Tonsilektomi dengan atau tanpa adenoidektomi meningkatkan resiko untuk mengalami berat badan berlebih sebesar 61% dan obesitas sebesar 136% pada saat anak berusia 8 tahun (p<0,01). Adenoidektomi saja tidak secara bermakna meningkatkan resiko berat badan berlebih, tetapi meningka7kan resiko obesitas sebesar 94% (P<0,05).
Data longitudional berat dan tinggi badan beberapa tahun sebelum dan sesudah operasi menunjukkan bahwa (adeno)tonsilektomi menciptakan titik balik antara periode growth faltering dan periode catch-up growth, sehingga hal ini dapat menjelaskan meningkatnya resiko timbulnya berat badan berlebih setelah operasi.
Para peneliti menganjurkan agar orang tua diberi nasehat menegenai diet dan gaya hidup yang benar bagi anak yang akan menjalani tonsilektomi. Monitoring pertumbuhan pasca operasi merupakan kunci untuk memastikan bahwa catch-up growth terjadi dalam batas yang sehat.
Sumber : Medical Up-date
Jumat, 29 Mei 2009
Selasa, 26 Mei 2009
PPA dosis aman
Kompas.
Indonesia masih mengizinkan peredaran obat flu dan batuk yang mengandung phenylpropanolamine atau PPA, tetapi dengan mereduksi kandungan menjadi 15 milligram per dosis.
Tidak benar, 1 Maret 2009 US-FDA mengeluarkan pengumuman penarikan PPA. November 2000, US-FDA menarik obat menandung PPA karena diduga terkait dengan perdarahan otak karena dosis besar sebagai pelangsing.
Di Indonesia, PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu seta batuk dan tidak disetujui sebagai pelangsing.
Australia & Inggris msih mengizinkan peredaran obat yang mengandung PPA dengan pertimbangan dosis per hari lebih kecil 100 mg/hari, sedangkan AS mengizinkan 150 mg/hari. Di Indionesia, dosis PPA kita dikurangi 15 mg/dosis. Kalau diminum tiga kali hanya 45 mg/hari. Dan PPA tidak mengendap dan keluar lewat urine.
Sudah ada pengganti PPA yakni Pseudoephedrine, tetapi harganya dua kali lipat PPA. Keduanya beresiko sama, yaitu menyebabkan hipertensi. Anak-anak dibawah enam tahun tidak diizinkan meminumnya.
Indonesia masih mengizinkan peredaran obat flu dan batuk yang mengandung phenylpropanolamine atau PPA, tetapi dengan mereduksi kandungan menjadi 15 milligram per dosis.
Tidak benar, 1 Maret 2009 US-FDA mengeluarkan pengumuman penarikan PPA. November 2000, US-FDA menarik obat menandung PPA karena diduga terkait dengan perdarahan otak karena dosis besar sebagai pelangsing.
Di Indonesia, PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu seta batuk dan tidak disetujui sebagai pelangsing.
Australia & Inggris msih mengizinkan peredaran obat yang mengandung PPA dengan pertimbangan dosis per hari lebih kecil 100 mg/hari, sedangkan AS mengizinkan 150 mg/hari. Di Indionesia, dosis PPA kita dikurangi 15 mg/dosis. Kalau diminum tiga kali hanya 45 mg/hari. Dan PPA tidak mengendap dan keluar lewat urine.
Sudah ada pengganti PPA yakni Pseudoephedrine, tetapi harganya dua kali lipat PPA. Keduanya beresiko sama, yaitu menyebabkan hipertensi. Anak-anak dibawah enam tahun tidak diizinkan meminumnya.
Senin, 11 Mei 2009
GERD
Belum banyak orang yang Indonesia yang mengetahui tentang GERD atau gastroesophageal reflux disease. Umumnya penyakit yang berkaitan dengan asam lambung selalu dikira sebagai dyspepsia atau mag. Padahal GERD adalah penyakit kronik yang bias mengakibatkan kanker lambung. Di Indonesia diperkirakan ada 4 juta orang menderita GERD.
Asam lambung bias naik dan mengakibatkan perlukaan di kerongkongan. Lama-lama bisa menjadi kanker kerongkongan.
GERD merupakan kondisi aliran balik dari isi lambung ke kerongkongan yang menyebabkan gejala yang mengganggu hingga terjadinya komplikasi. Aliran balik asa lambung ke kerongkongan tidak hanya menjadi pemicu sindrom GERD (seperti naiknya aliran isi lambung ke kerongkongan atau regurgitasi ataupun nyeri dada seperti terbakar, heartburn) tetapi juga menyebabkan luka pada kerongkongan atau esofagitis. Alir balik isi lambung ini juga dilaporkan bisa menyebabkan atypical syndrome (seperti asthma reflux) yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari dan sulit diobati.
Komplikasi lain.
GERD yang tidak diterapi dengan baik dapat menyebabkan terjadinya komplikasi antara lain penyempitankerongkongan, pendarahan kerongkongan dan kondisi yang disebut Barrett’s esophagus (terjadi pembentukan jaringan pada dinding kerongkongan seperti yang ditemukan dalam usus). Jika hal ini terjadi, perjalanan penyakit ini berhubungan dengan kanker kerongkongan.
Faktor resiko penyakit GERD ini antara lain obesitas, tidur telentang seusai makan, merokok, alkohol, kopi, dan stress.
Kopi menungkatkan asam lambung, begitu juga stress. Jika ada sesuatu yang tidak beres di otak, maka otak akan memerintahkan lambung untuk memproduksi asam lambung.
Asam lambung bias naik dan mengakibatkan perlukaan di kerongkongan. Lama-lama bisa menjadi kanker kerongkongan.
GERD merupakan kondisi aliran balik dari isi lambung ke kerongkongan yang menyebabkan gejala yang mengganggu hingga terjadinya komplikasi. Aliran balik asa lambung ke kerongkongan tidak hanya menjadi pemicu sindrom GERD (seperti naiknya aliran isi lambung ke kerongkongan atau regurgitasi ataupun nyeri dada seperti terbakar, heartburn) tetapi juga menyebabkan luka pada kerongkongan atau esofagitis. Alir balik isi lambung ini juga dilaporkan bisa menyebabkan atypical syndrome (seperti asthma reflux) yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari dan sulit diobati.
Komplikasi lain.
GERD yang tidak diterapi dengan baik dapat menyebabkan terjadinya komplikasi antara lain penyempitankerongkongan, pendarahan kerongkongan dan kondisi yang disebut Barrett’s esophagus (terjadi pembentukan jaringan pada dinding kerongkongan seperti yang ditemukan dalam usus). Jika hal ini terjadi, perjalanan penyakit ini berhubungan dengan kanker kerongkongan.
Faktor resiko penyakit GERD ini antara lain obesitas, tidur telentang seusai makan, merokok, alkohol, kopi, dan stress.
Kopi menungkatkan asam lambung, begitu juga stress. Jika ada sesuatu yang tidak beres di otak, maka otak akan memerintahkan lambung untuk memproduksi asam lambung.
Sabtu, 25 April 2009
Obat Flu dan Batuk.
Sumber Kompas.
Sejauh ini tidak ada laporan kasus efek samping pemakaian phenylpropanolamine atau PPA didalam obat flu dan batuk. Badan pengawasan obat dan makanan menilai pemakaian PPA didalam obat flu dan batuk di Indonesia terbilang rendah dosisnya, hanya 15-25 milligram per dosis atau 75 mg per hari.
Jadi tidak benar pada 1 Maret 2009, BPOM amerika serikat (US-FDA) mengeluarkan pengumuman tentang obat flu dan batuk yang mengandung PPA seperti yang beredar si SMS dan email, kata Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Dr.Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakara.
PPA adalah zat aktif dalam obat flu dan obat batuk yang berfungsi sebagai penghilang gejala hidung tersumbat.
Menurut Husniah, saat ini tidak ada informasi baru terkait keamanan PPA. Pada November 2000, US-FDA menarik obat yang mengandung PPA karena diduga ada hubungannya antara perdarahan otak dan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing. PPA yang digunakan dalam obat pelangsing di AS sebanyak 150 mg per hari.
Penarikan obat yang mengandung PPA di AS diduga ada hubungan antara hemorrhagic stroke dan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing. PPA dosis besar sebagai obat pelangsing di AS dijual sebagai obat bebas. Di Indonesia, PPA tidak pernah disetujui sebagai obat pelangsing.
Hidung Tersumbat.
Di Indonesia menurut Husniah, PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu dan batuk, serta tidak pernah disetujui sebagai oba pelangsing. Itupun dalm dosis yang lebih kecil dari pada yang di AS yakni 15 – 25 mg per dosis atau 75 mg per hari untuk dewasa, sedangkan untuk anak berusia 6-12 tahun hanya diperbolehkan 37,5 mg per hari.
Di Indonesia juga tidak pernah ada laporan efek samping stroke atau perdarahan otak yang berhubungan dengan penggunaan PPA. Perlu dipahami, penggunaan obat apapun juga wajib membaca aturan pakai maupun hal yang perlu diperhatikan, tegas Husniah.
Obat flu dan obat batuk yang mengandung PPA atau golongan simatomimetik (misalnya efedrin, fenilefrin, pseudoefedrin) tidak boleh digunakan oleh pasien darah tinggi, hipertiroid, penyakit jantung, diabetes, glaukoma, hipertropi prostat atau pasien yang sedang mengkonsumsi obat antidepresan golongan penghambat monoamin oxidase (MAO).
Apabila obat digunakan sesuai aturan pakai yang telah ditetapkan, kata husniah, efek samping yang ditimbulkan umumnya ringan dan bersifat sementara. Efek samping tersebut dapat berupa rasa mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, gelisah atau susah tidur.
Klik disini untuk melihat PPA dosis aman
Sejauh ini tidak ada laporan kasus efek samping pemakaian phenylpropanolamine atau PPA didalam obat flu dan batuk. Badan pengawasan obat dan makanan menilai pemakaian PPA didalam obat flu dan batuk di Indonesia terbilang rendah dosisnya, hanya 15-25 milligram per dosis atau 75 mg per hari.
Jadi tidak benar pada 1 Maret 2009, BPOM amerika serikat (US-FDA) mengeluarkan pengumuman tentang obat flu dan batuk yang mengandung PPA seperti yang beredar si SMS dan email, kata Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Dr.Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakara.
PPA adalah zat aktif dalam obat flu dan obat batuk yang berfungsi sebagai penghilang gejala hidung tersumbat.
Menurut Husniah, saat ini tidak ada informasi baru terkait keamanan PPA. Pada November 2000, US-FDA menarik obat yang mengandung PPA karena diduga ada hubungannya antara perdarahan otak dan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing. PPA yang digunakan dalam obat pelangsing di AS sebanyak 150 mg per hari.
Penarikan obat yang mengandung PPA di AS diduga ada hubungan antara hemorrhagic stroke dan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing. PPA dosis besar sebagai obat pelangsing di AS dijual sebagai obat bebas. Di Indonesia, PPA tidak pernah disetujui sebagai obat pelangsing.
Hidung Tersumbat.
Di Indonesia menurut Husniah, PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu dan batuk, serta tidak pernah disetujui sebagai oba pelangsing. Itupun dalm dosis yang lebih kecil dari pada yang di AS yakni 15 – 25 mg per dosis atau 75 mg per hari untuk dewasa, sedangkan untuk anak berusia 6-12 tahun hanya diperbolehkan 37,5 mg per hari.
Di Indonesia juga tidak pernah ada laporan efek samping stroke atau perdarahan otak yang berhubungan dengan penggunaan PPA. Perlu dipahami, penggunaan obat apapun juga wajib membaca aturan pakai maupun hal yang perlu diperhatikan, tegas Husniah.
Obat flu dan obat batuk yang mengandung PPA atau golongan simatomimetik (misalnya efedrin, fenilefrin, pseudoefedrin) tidak boleh digunakan oleh pasien darah tinggi, hipertiroid, penyakit jantung, diabetes, glaukoma, hipertropi prostat atau pasien yang sedang mengkonsumsi obat antidepresan golongan penghambat monoamin oxidase (MAO).
Apabila obat digunakan sesuai aturan pakai yang telah ditetapkan, kata husniah, efek samping yang ditimbulkan umumnya ringan dan bersifat sementara. Efek samping tersebut dapat berupa rasa mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, gelisah atau susah tidur.
Klik disini untuk melihat PPA dosis aman
Langganan:
Postingan (Atom)